Home Hukum KOMPAS, KONGLOMERAT ASENG dan MUNAFIKIN SANGAT BENCI HTI

KOMPAS, KONGLOMERAT ASENG dan MUNAFIKIN SANGAT BENCI HTI

251
0
SHARE
Ketua Progres 98 Faizal Assegaf
OLEH Faizal Assegaf (Ketua Progres 98)
Sejak tahun 2010 saya intensif mengamati berbagai kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebuah organisasi berbasis Islam yang agresif dan istiqomah melawan bahaya paham liberalisme, sekularisme dan kapitalisme.
Wadah para intelektual kampus, ustadz, santri dan aktivis masjid ini sangat membanggakan serta menjadi fenomenal. Mereka cukup kritis menyoroti aneka kejahatan perampokan SDA, utang luar negeri dan hegemoni konglomerat aseng di Indonesia.
Ihwal itu membuat keberadaan HTI makin digemari oleh kaum muda muslim dan menuai simpati umat. Terlebih pendekatan gerekan yang ditampilkan begitu santun, intelek, religi dan visioner.
Wajar bila menimbulkan ketakutan bagi misionaris Kompas (Komando Pastur), konglomerat aseng dan kawanan munafikin bertopeng pluralisme.
Ketiga kelompok tersebut terkenal dengan julukan “ATM” (Aliansi Tirani Minoritas), yang bertahun-tahun merusak kehidupan umat dan kini paling gencar menyebarkan fitnah dan kebencian pada aktivis HTI.
Melalui penguasaan jaringan media massa mereka giat menuding HTI berencana mendirikan negara Islam dan distigmakan sebagai teroris, radikalis dan anti Pancasila.
Puncak kebencian pada kelompok HTI muncul di Pilpres 2014, lantaran HTI dan berbagai ormas Islam lainnya tampil memberi dukungan bagi pencapresan Prabowo Subianto.
Sikap HTI membela Prabowo Subianto dipicu oleh kesamaan visi untuk memperjuangkan Indonesia lepas dari cengkraman konglomerat aseng. Sebuah tujuan mulia dan mendapat dukungan luas dari jutaan rakyat.
Walaupun Prabowo kalah, HTI tetap konsisten dan giat bergerak menyadarkan umat Islam tentang kejahatan konglomerat aseng. Hingga kemudian gerakan mereka bersenyawa dengan ormas-ormas Islam dalam solidaritas Bela Islam yang menuntut keadilan atas kasus penistaan Al Qur’an.
Keterlibatan HTI dalam Aksi Bela Islam makin menimbulkan kecemasan yang luar di pihak Kompas, konglomerat aseng dan kaum munafikin yang getol membela si penista agama alias Ahok.
Maklum, HTI tidak sekedar menggalang jaringan dan dukungan kekuatan massa yang solid. Tapi juga ikut berkontribusi besar dari sisi konseptual untuk memperkuat solidaritas Aksi Bela Islam.
Singkatnya, segala upaya untuk memusuhi HTI akan mendapatkan perlawanan dari jutaan umat Islam yang kini telah bangkit dalam konsolidasi nasional.
Dan saya salah satu kaum muda muslim yang akan terus mengawal perjuangan HTI serta ormas-ormas Islam yang konsisten melawan kejahatan kelompok ATM (Aliansi Tirani Minoritas).

LEAVE A REPLY