Home Hukum Presiden Indonesia dan NOTONOGORO

Presiden Indonesia dan NOTONOGORO

291
0
SHARE

PRIBUMI – Bulan Juni baru berlalu kita tak ada salahnya bicarakan sejarah yang ada. Terutama soal ada empat dari tujuh Presiden RI lahir di bulan Juni inilah dia mari kita simak:

1. Soekarno —- 6 Juni 1901
2. Suharto —- 8 Juni 1921
3. B.J. Habibie —- 25 Juni 1936
4. Joko Widodo —- 21 Juni 1961

Kita tahu bersama, baik Soekarno, Suharto dan B.J. Habibie sama-sama ‘turun’ di tengah jalan:
1. Soekarno dipecat MPRS (1967)
2. Suharto ditumbangkan Gerakan Reformasi (1998)
3. LPJ B.J. Habibie ditolak MPR (1999)

Lalu apakah Jokowi akan mengalami nasib malang seperti Soekarno, Suharto dan B.J. Habibie ?

Jawabannya bisa sangat filosofis. Sepanjang sejarah peradaban manusia, begitu banyak terjadi perulangan demi perulangan (repetisi) dan keteraturan. Terlalu kompleks jika repetisi dan keteraturan itu dianggap sebagai kebetulan semata.

Jika kita telaah maka memaknai fenomena tersebut dengan istilah ”DNA Kejadian” lalu kita bisa melihat terawangan NASIB SANG PRESIDEN

1). Presiden RI yang lahir di bulan Juni (Soekarno, Suharto, B.J. Habibie) sama-sama ‘turun’ di tengah jalan

2). Dalam khazanah dunia pewayangan, Petruk hanya berkuasa secara temporary : 3 hari 3 malam

3). Setelah menaikkan harga BBM di hari ke-25 pasca pelantikannya, Carlos Anders Perez tidak sampai menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden Venezuela.

NOTONOGORO JILID I

1. Soekarno — NO — 6 Juni 1901— Kerbau — Gemini — turun di tengah jalan (dipecat MPRS, 1967)

2. Suharto — TO — 8 Juni 1921 — Ayam — Gemini — turun di tengah jalan (ditumbangkan Gerakan Reformasi, 1998)

3. B.J. Habibie — NO — 25 Juni 1936 — Tikus — Cancer — turun di tengah jalan (LPJ ditolak MPR, 1999)

4. Gus Dur — GO — 7 September 1940 — Naga — Leo — turun di tengah jalan (di-impeachment DPR, 2001)

5. Megawati — RO — 23 Januari 1947 — Babi — Aquarius — berkuasa 3 tahun (2001-2004)

Soekarno – Suharto – B.J. Habibie – Gus Dur – Megawati adalah fase kepemimpinan NOTONOGORO jilid satu.

Fase ini memenuhi syarat pakem. Komplit. Tidak melanggar pakem. Efeknya : negara dalam posisi landai-landai saja alias masih on the track.

NOTONOGORO JILID II

6. SBY — NO — 9 September 1949 — Kerbau — Virgo — berkuasa 2 periode/10 tahun (2004-2014)

7. Jokowi —- DO — 21 Juni 1961 — Kerbau — Gemini — 2014-

Fase kepemimpinan NOTONOGORO jilid dua dimulai dari SBY (NO). Seharusnya presiden pengganti SBY adalah sosok yang namanya mengandung sempalan kata TO, bukan DO, agar memenuhi syarat pakem dan tidak melanggar pakem.

Berdasar mitologi Jawa, sesuatu yang melanggar pakem itu tidak baik, dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, bahkan bencana. Pelanggaran pakem ini adalah tanda-tanda zaman sedang bergerak. Mungkin pula, pelanggaran pakem ini memang sengaja ‘diberi pintu’ oleh Tuhan, alam dan sejarah agar menjadi triger (pemicu) perubahan progresif-radikal-revolusioner di negeri ini.

Masa depan negeri ini, menurut perspektif, berkait-erat dengan hal-hal berikut :
1. Pilpres 2014
2. Teori Seven Factor (pada 2015 Indonesia berusia 70 tahun, usia di mana Uni Sovyet dan Yugoslavia runtuh)
3. Kajian akademis Limongi-Przeworski (daya tahan demokrasi Indonesia hanya sampai 2016)
4. Siklus 100 tahunan (Revolusi Bolshevik meledak pada 1917, jika maju 100 tahun akan tiba di 2017)
5. Presiden RI yang lahir di bulan Juni (Soekarno, Suharto, B.J. Habibie) sama-sama ‘turun’ di tengah jalan
6. Dalam khazanah dunia pewayangan, Petruk hanya berkuasa secara temporary : 3 hari 3 malam
7. Setelah menaikkan harga BBM di hari ke-25 pasca pelantikannya, Carlos Anders Perez tidak sampai menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden Venezuela.

Jika bangsa dan negara ini ingin selamat, menghikmati kearifan sejarah adalah hal mutlak. Mempertimbangkan dengan seksama hitungan-hitungan adiluhung leluhur merupakan bentuk dari menghikmati kearifan sejarah.

Suka tidak suka, percaya tidak percaya, pelanggaran pakem kepemimpinan nasional NOTONOGORO akan menyeret bangsa dan negara ini tubir jurang kehancuran. Tanda-tanda zaman sedang bergerak. Menantang arusnya sama halnya melawan kehendak Tuhan dan alam semesta. Pasti terlibas. Pasti terlindas.

NOTONOGORO jilid I sudah terpenuhi dengan paripurna. Jika NOTONOGORO jilid II diawali dengan NO, tapi tidak diikuti TO (namun DO), maka NOGORO —-atau setidaknya NO—- adalah Juru Selamat yang sedang dipersiapkan oleh hukum alam.

Lalu tiga dari tujuh —-atau setara dengan -+ 44%—- Presiden RI (Soekarno, SBY, Jokowi) adalah ber-shio Kerbau. Ini fakta. Statistik ini tak butuh sanggahan, tak butuh data oposan.

Jika mengacu pada Teori Probabilitas, maka siapapun yang ber-shio Kerbau punya kans besar menggapai takdir untuk memimpin negeri ini. Jika lapangan bahasan diperluas ke ”DNA kejadian”, maka titik simpul yang akan didapat lebih empiris, akuratif dan mencengangkan.

Percayalah, Tuhan itu matematikawan paling jenius di Jagat Raya. Secara matematis, ia menciptakan simbol-simbol, repetisi dan keteraturan yang sulit diiringi oleh akal sehat manusia.

Tiga dari tujuh —-atau setara dengan -+ 44%—- Presiden RI (Soekarno, SBY, Jokowi) ber-shio Kerbau. Sedangkan Suharto (Ayam), Habibie (Tikus), Gus Dur (Naga), dan Megawati (Babi). Artinya, orang-orang yang ber-shio Ayam, Tikus, Naga, dan Babi, memiliki probabilitas menjadi Presiden RI masing-masing sebesar 14%. Orang-orang yang ber-shio Kerbau memiliki kemungkinan 3X lipat menjadi Presiden RI dibanding pemilik shio Ayam, Tikus, Naga, dan Babi. Jadi, tidak mengherankan bila Prabowo Subianto yang lahir 17 Oktober 1951 dan pemilik shio Kelinci kalah ketika melawan Jokowi (Kerbau) dalam Pilpres 2014. Sepanjang sejarah Republik, belum pernah ada pemilik shio Kelinci menjadi Presiden RI alias probabilitas-nya 0%.

Pemilik shio Kerbau memiliki tingkat probabilitas 44% untuk menjadi pemimpin nasional. Ini fakta sejarah yang tak bisa dipungkiri. Jika mengiris data lebih dalam, akan ditemukan pola perulangan sebagai berikut :
1. Soekarno —- Juni —- Kerbau
2. SBY —- September —- Kerbau
3. Jokowi —- Juni —- Kerbau
4. ………. —- September —- Kerbau

Soekarno —>> SBY —>> Jokowi —>> ……….
Juni —>> September —>> Juni —>> September

Dari skema di atas tergambar dengan jelas, akan muncul shio Kerbau ke-4 yang lahir pada bulan September, yang akan naik tampuk kekuasaan.

Wallahu’alam.

REDAKSI/PRA

LEAVE A REPLY