Home Kolom PANEN LUMUT PULAU ARTIFISIAL

PANEN LUMUT PULAU ARTIFISIAL

200
0
SHARE

PANEN LUMUT PULAU ARTIFISIAL
by Zeng Wei Jian

Hand over unit pertama Palm Jumeirah dimulai tahun 2006. Oktober 2007, Palm Jumeirah telah dihuni 500 families. Jadi the world’s largest artificial island. Akhir 2009, 28 hotel resmi beroperasi di sana.

The same year, The New York Times menurunkan laporan seputar runtuhnya ekonomi Dubai. Artikel ini menyebut Pulau Reklamasi “The Palm” mulai tenggelam. Sinking to the sea floor. Laporan ini didasari NASA geological survey yang menyatakan The Palm tenggelam ke dasar laut dengan speed 5 milimeter (0.20 in) per tahun.

Desember 2012, Emirates 24|7 merilis berita bertajuk “Dubai‚Äôs green warriors fighting algae off Palm Jumeirah, Palm Jebel Ali waters”.

Syahdan, 5 tahun setelah unit pertama terjual, perairan sekitar pulau-pulau artifisial Dubai mulai bermasalah. “Algae bloom” alias panen lumut terjadi. Bau busuk menyelimuti perairan pantai.

Masalah “Panen Lumut” memaksa master-developer Nakheel menggerakan volunteer group pembersih algae.

Tim penyelam sukses mengangkat 500 kilogram algae. Empat dari 6 grup pembersih diturunkan setiap hari. Tugasnya, angkatin lumut. Mereka bekerja di bawah kendali EMEG (Emirates Marine Environmental Group), perusahaan kontraktor yang disewa Nakheel untuk membersihkan Palm Jumeirah.

Serbuan Algae bloom meningkat di musim panas. Nakheel masih mengeksplorasi cara efektif sirkulasi air. Stagnant water dan sinar matahari adalah penyebab tunggal Algae bloom.

Ali Saqar Sultan Al Suweidi, The president of EMEG, mengatakan, “When the algae sink to the bottom, photosynthesis cannot occur and the algae grow black. This creates a very bad smell”.

Pulau reklamasi Dubai, secara dramatis, mengubah ombak, temperatur, dan pola erosi Teluk Persia. Menyebabkan musnahnya kehidupan coral di wilayah itu. Merusak ekosistem. Menciptakan bau tak sedap.

Bos-bos developer pulau palsu Dubai mesti menenggelamkan dua American fighter jets ke dasar laut. Dijadikan rumpon. Supaya new coral reef bisa muncul. Tetep saja, World Wildlife Fund (WWF) menyimpulkan bahwa Dubai is “five times more unsustainable than any other country” on Earth.

Ngapain pake pesawat tempur sebagai rumpon. Dubai kalah canggih. Kalau di Jakarta, bos-bos reklamasi bisa pake becak tuh.

THE END

LEAVE A REPLY