Home Hukum REVOLUSI PUTIH & KRITIK ANEH MENTERI KESEHATAN

REVOLUSI PUTIH & KRITIK ANEH MENTERI KESEHATAN

258
0
SHARE

REVOLUSI PUTIH & KRITIK ANEH MENTERI KESEHATAN

Jangan kampanye minum susu, kata Menteri Kesehatan, karena jumlah sapi kita sedikit. Terus terang saya merasa ganjil dengan penalaran Bu Menteri. Jika Bu Menteri konsisten dengan logikanya, mestinya beliau segera menegur Presiden: “Jangan bangun infrastruktur, karena duit kita sedikit.”

Kita memang punya persoalan dalam hal produksi susu. Kemampuan produksi susu kita hanya mampu menutupi 30% kebutuhan konsumsi nasional. Artinya, untuk memenuhi 70% sisanya, kita harus melakukan impor. Saat ini konsumsi susu nasional mencapai 4,45 juta ton, namun produksi nasional kita hanya mencapai 825 ribu ton saja.

Hanya saja, dalam kaitannya dengan soal gizi, yang seharusnya dijadikan poin oleh pemerintah mestinya bukanlah soal jumlah sapi yang kita punya, tapi soal masih rendahnya konsumsi susu di Indonesia yang kemudian menyebabkan masih tingginya angka gizi buruk di Indonesia. Empat dari sepuluh anak Indonesia adalah penderita gizi buruk.

Saat ini konsumsi susu kita hanya sekitar 12 liter per kapita per tahun, masih kalah tertinggal dari Malaysia yang mencapai 39 liter, Vietnam 20 liter, dan Thailand 17 liter/kapita per tahun. Konsumsi susu kita saat ini bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan Myanmar.

Pertanyaannya kemudian: kenapa kapasitas produksi susu kita rendah?! Persis di situlah Bu Menteri mestinya bertanya kepada dirinya sendiri, karena persoalan ini sangat terkait dengan peran pemerintah.

Tidak adanya keberpihakan pemerintah kepada para peternak sapi lokal telah menyebabkan profesi peternak hanya menjadi sambilan saja di negeri kita. Pemerintah lebih berpihak pada importir sapi dari pada membantu dan mengembangkan industri peternakan nasional. Jadi, kalau jumlah sapi kita sedikit, atau produksi susu nasional kita masih lebih rendah dari kebutuhan, jangan kemudian yang disalahkan adalah konsumsi susunya, tapi perbaiki segera sektor peternakan nasional.

Konsumsi susu dan konsumsi ikan bersifat saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Jika saling menegasikan, maka negara-negara yang konsumsi ikannya tinggi pastilah konsumsi susunya rendah. Atau sebaliknya, negara-negara yang konsumsi susunya tinggi, pastilah konsumsi ikannya rendah. Tapi pada kenyataannya tidaklah demikian.

Sebagai gambaran, Malaysia yang konsumsi susunya 39 liter/kapita per tahun, atau tiga kali lipat dari konsumsi susu kita, konsumsi ikannya ternyata dua kali lipat konsumsi ikan kita, yaitu mencapai 70 kg/kapita per tahun. Sebagai pembanding, konsumsi ikan kita “hanya” 37 kg/kapita per tahun.

Jadi, Bu Menteri, sudah menjadi tugas pemerintah untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya. Hanya karena neraca konsumsi susu nasional kita masih defisit, janganlah beri stigma negatif pada pentingnya kampanye minum susu. Sebaliknya, sebagai bagian dari pemerintah, mulailah mendorong perbaikan sektor peternakan nasional.

Bukankah sudah lebih dari setengah abad kementerian yang ibu pimpin beserta organisasi pelayanan kesehatan di bawahnya mengkampanyekan doktrin Empat Sehat Lima Sempurna, di mana susu menjadi bagian penting di dalamnya?!

Apakah doktrin itu bohong belaka?! Tega betul ibu telah membohongi generasi nenek dan ibu kami soal pentingnya minum susu bagi anak-anak mereka.

Tarli Nugroho

LEAVE A REPLY