All for Joomla All for Webmasters
Home Hukum J…bleb…LAGI2 FITNAH AHOKERS TERBONGKAR TELAK..!

J…bleb…LAGI2 FITNAH AHOKERS TERBONGKAR TELAK..!

203
0
SHARE

LAGI2 FITNAH AHOKERS TERBONGKAR TELAK..!

PENGUSUL ANGGARAN RENOVASI KOLAM BALAIKOTA SEBESAR 620 JUTA TERNYATA ADALAH MUHAMMAD YULIADI.
YULIADI ADALAH ORANG KEPERCAYAAN AHOK YANG DIPASANG SEBAGAI SEKRETARIS DPRD DKI.

■Pengamat menilai:
MENGERIKAN, ADA NIAT MENJEBAK ANIES-SANDI DI RAPBD 2018 TERKAIT TAHUN POLITIK 2019.

Peristiwa memalukan tentang terbongkarnya ‘orang pilihan Ahok’ sebagai tokoh pemain anggaran renovasi kolam tsb, terjadi dalam rapat Banggar DPRD kemarin.

Kepala Bappeda DKI Jakarta Tuty Kusumawati diminta membuka sistem e-budgeting untuk mencari tahu siapakah si pelaku. Karena sistem e-budgeting bertugas merekam siapa saja PNS yang menginput setiap usulan anggaran.

Akhirnya jejak digital mengungkap yg memasukkan anggaran tsb adalah Sekretaris Dewan MUHAMMAD YULIADI. Pertama kali anggaran renovasi kolam sebesar 620 juta tsb dibuat dan diinput oleh Yuliadi ke dalam sistem e-budgeting pada tgl 7 April. Yuliadi juga terekam memperbarui inputnya pada 26 Mei.

Yuliadi pun akhirnya mengaku bahwa anggaran renovasi kolam dimasukkan oleh SKPD Sekretariat Dewan. Bukan diusulkan oleh fraksi2 di DPRD. Alasannya untuk mempercantik kawasan DPRD DKI Jakarta.

●’TERCYDUK’..!! SUDAH SANGAT JELAS.
Telah terang benderang bahwa kelakuan Yuliadi itu terjadi di masa Gubernur AHOK dan Wagub DJAROT. Belum diketahui apakah dia memainkan orkestranya itu sendiri, atau ada campur tangan pihak lain. Pasalnya usulan sama di tahun sebelumnya telah dicoret dr anggaran, karena tidak disetujui Mendagri.

Yang menjijikkan adalah bungkamnya Yuliadi selama ini. Ketika Gubernur Anies dan Wagub Sandiaga ramai dibully dan difitnah ahokers, dia diam tak bersuara. Orang kepercayaan Ahok itu seolah menikmati riuhnya tuduhan kepada Anies-Sandi, bahwa baru 1 bulan menjabat saja mereka telah memainkan anggaran fantastis untuk kolam balaikota.

SIAPAKAH MUHAMMAD YULIADI?
YULIADI ADALAH ORANG YANG DIPILIH AHOK DAN DITEMPATKAN SEBAGAI SEKRETARIS DEWAN. DIA DILANTIK PADA 2015, SETELAH SEBELUMNYA MENJABAT SEBAGAI WAKIL WALIKOTA JAKBAR.

☝☝☝☝☝

http://amp.kompas.com/megapolitan/read/2017/11/27/15522111/8e-budgeting-ungkap-pengusul-anggaran-kolam-rp-620-juta-ini-orangnya

http://www.portal-islam.id/2017/11/fitnah-ahoker-terbongkar-telak-inilah.html?m=1#

Tersebar kabar bahwa anggaran renovasi kolam air mancur sebesar Rp 620 juta diusulkan oleh Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi.

Prasetio membantah hal tersebut dan meminta anggaran itu dihapus dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD di Gedung DPRD DKI Jakarta hari ini.

Sebelum anggaran dicoret, Ketua Komisi E DPRD DKI Syahrial meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah menunjukkan terlebih dahulu siapa sebenarnya yang mengusulkan anggaran itu.

“Sebelum dicoret kolam ini, saya mau klarifikasi siapa yang mengusulkan itu karena pimpinan merasa tidak enak,” ujar Syahrial dalam rapat Banggar di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Senin (27/11/2017).

Kepala Bappeda DKI Jakarta Tuty Kusumawati pun menunjukkan sistem e-budgeting untuk mencari tahu hal itu.

Tuty mengatakan, sistem e-budgeting merekam siapa saja PNS yang meng-input usulan anggaran. Dari sana dapat diketahui bahwa yang mengusulkan anggaran renovasi kolam adalah Sekretaris Dewan Muhammad Yuliadi.

Baca juga : Akui Ada yang Keliru, DPRD DKI Akan Evaluasi Anggaran Kunker dan Kolam

“Pertama kali di-input untuk mata anggaran ini dibuat Muhammad Yuliadi pada tanggal 7 April dan diperbarui oleh Muhammad Yuliadi pada 26 Mei,” kata Tuty.

Yuliadi juga sudah membenarkan bahwa anggaran kolam ikan diusulkan oleh SKPD Sekretariat Dewan. Anggaran ini bukan diusulkan oleh fraksi-fraksi di DPRD dengan alasan untuk mempercantik kawasan DPRD DKI Jakarta.

http://wartakota.tribunnews.com/2017/11/22/mengerikan-ada-niat-menjebak-anies-sandi-di-rapbd-2018-terkait-pilpres-dan-pilgub-2019

WARTA KOTA, GAMBIR — Pertarungan politik untuk pemilihan Presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) 2019 sudah terasa di Jakarta.
Penyusunan rancangan APBD DKI Jakarta (RAPBD DKI) 2018 jadi ajang pertarungan menghancurkan nama baik Anies-Sandi. Pembahasan dilakukan di seluruh komisi DPRD DKI dan banyak ditemukan anggaran aneh dan tak masuk akal.

Bahkan Anies-Sandi kini mulai digiring menjadi pemimpin yang tak transparan.

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI), Reza Haryadi, mengingatkan Anies-Sandi terkait 2 opini yang kini tengah dibangun lawan politiknya.
Pertama pemerintahan yang tak transaparan. Kedua, pemerintahan yang tak bersih.
Hal itu digiring lewat pembahasan RAPBD 2018. Bahkan beberapa pihak mencoba memasukkan angka-angka aneh yang tak masuk akal ke RAPBD 2018.

Salah satunya soal anggaran kolam ikan sebesar Rp 620 juta yang sempat viral.

Setelah ditelusuri, ternyata usulan berasal dari partai pengusung Ahok-Djarot di Pilgub yang lalu, yakni PDIP.
Belum lagi mendadak muncul kenaikan anggaran tim gubernur untuk urusan percepatan pembangunan (TGUPP) yang dinilai tak wajar.
Anggaran itu naik dari Rp 2,8 milliar menjadi Rp 28 milliar.

Anies-Sandi pun diejek habis-habisan di media sosial.
Padahal faktanya, Anies-Sandi belum mengajukan nama-nama orang di daftar TGUPP.
Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi DKI Jakarta, Agus Suradika yang memastikan bahwa Anies-Sandi belum memasukkan daftar nama TGUPP-nya.
Sehingga menjadi aneh bin ajaib anggaran itu mendadak muncul tanpa sepengetahuan Anies-Sandi.
Sebab semestinya daftar TGUPP sampai dulu di BKD DKI, baru anggaran bisa diprediksi.
“Ini dia, Anies-Sandi juga harus hati-hati di eksekutif. Hati-hati juga sama anak buahnya yang sekarang. Dia kan belum merombak jabatan ini. Masih banyak PNS pengikut setia gubernur yang lalu,” kata Reza.

Bahkan orang-orang seperti itu punya kemungkinan membantu menjatuhkan nama baik Anies-Sandi.
Reza berpendapat seharusnya Anies-Sandi merombak gerbong Pemprov DKI sebelum pembahasan KUA PPAS APBD dan RAPBD2018 mulai.

Hal itu seharusnya dilakukan agar mereka yang duduk benar-benar orang yang loyal kepadanya.

Tapi lantaran sudah terlanjur, Anies-Sandi kini mesti mengerahkan tim maupun partai politik pengusungnya di DPRD DKI agar membersihkan dan mencoreti anggaran aneh yang berpotensi menjatuhkan nama baik Anies-Sandi.

“Bahkan kalau bisa dibuka saja ke publik semua yang dibahas. Agar tak ada dugaan aneh-aneh,” kata Reza.

Terkait hal ini, fraksi pendukung Anies-Sandi di DPRD DKI juga mulai berjaga-jaga.

Sekretaris Komisi A DPRD DKI Jakarta, Syarif, mengatakan, pihaknya kini menyisir satu per satu anggaran aneh yang mendadak muncul.

Bahkan termasuk anggaran kolam ikan Rp 620 juta juga akan dibahas.
“Besok kita rapat bersama Sekwan. Kita akan tanyakan soal kolam ikan Rp 620 juta itu. Harusnya yah nggak Rp 620 juta juga lah,” kata Syarif yang berasal dari fraksi Gerindra, partai pengusung Anies-Sandi.(*)

Komoditas unggulan coklat (kakao) yang dihasilkan Koperasi Kerta Semaya Samania , Kabupaten Jembrana, Bali, berhasil menyabet penghargaan coklat dunia dari “Cocoa Exellence 2017”.

“Penghargaan yang diterima oleh kelompok petani Koperasi Kerta Semaya Samania adalah pengakuan dari sertifikasi dunia bidang kakao. Untuk memperoleh penghargaan tersebut ada kreteria tertentu oleh pihak penyelenggara ajang `Cocoa Exellence`,” kata Direktur Yayasan Kalimajari Denpasar Agung Widiastuti di Pakutatan, Jembrana, Bali, Sabtu.

Widiastuti selaku pendamping Koperasi Kerta Semaya Samania mengatakan penghargaan “Cocoa Exellence 2017” merupakan ajang bergengsi dalam sektor perkebunan coklat, salah satu untuk menjadi peserta adalah biji coklat memiliki kekhasan. Dan coklat asal Jembrana kekhasan itu ada pada aromanya. Sehingga pihak koperasi pun mengirimkan sampel coklat ke pihak panitia penyelenggara penghargaan tersebut.

“Peserta ajang tersebut diikuti dari 66 negara di dunia dengan 166 sampel coklat. Sampel coklat dari Jembrana masuk lima puluh besar, sehingga berhak menyabet penghargaan tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kelompok tani coklat yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samania saat ini berjumlah 35 subak abian (kelompok tani tradisional Bali) dengan anggota 558 petani. Sedangkan luas lahan perkebunan mencapai 600 hektare lebih. Waktu mengirim sampel itu menggunakan coklat milik petani Made Sugandi. Namun yang mendaftarkan adalah pihak koperasi ke panitia tersebut.

“Kelebihan coklat di Kabupaten Jembrana dari hasil penelitian memiliki kekhasan, yakni pada aroma, buah, bunga, rempah dan madu. Ini bisa terjadi karena penanaman coklat tersebut juga ditentukan dari kontur tanah, termasuk juga sistem tumpang sari,” ucapnya.

Menurut Widiastuti, tanaman coklat memerlukan penaung atau pelindung dari tanaman lain. Maka dari itu, petani coklat di Jembrana menggunakan sistem tumpang sari.

“Jadi, penerapan tumpang sari ini yang menjadi salah satu coklat Jembrana memiliki kekhasan tersendiri dibanding dengan coklat daerah lainnya. Sebab dengan sistem tumpang sari, salah satu menyebabkan coklat Jembrana memiliki ciri khas. sebab di dalam kebun coklat petani menanam pohon pisang, kelapa, termasuk juga petani membuat kotak rumah lebah,” ucapnya.

Widiastuti mengatakan petani yang tergabung dalam koperasi ini pendapatannya sudah ada peningkatan dibanding enam tahun lalu sebelum ada pendampingan dari Yayasan Kalimajari.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan memotivasi para petani agar mampu menghasilkan biji coklat berkualitas. Tujuan dari yayasan kami tidak semata-mata meningkatkan kualitas coklat, tetapi bagaimana upaya melestarikan coklat ini untuk generasi selanjutnya di Jembrana,” ucap wanita asal Desa Sangeh, Kabupaten Badung.

Ia mengatakan hasil petani coklat sekarang sudah ada peningkatan, baik dari jumlah maupun kualitas untuk siap di ekspor di pasar dunia. Terlebih saat ini sudah ada kerja sama dengan pembeli dari luar negeri.

“Kerja sama dan pendampingan dari salah satu perusahaan Valrhona asal Perancis akan semakin menggairahkan petani coklat. Karena perusahaan ini ke depan mengharapkan lebih banyak bisa mengambil biji kopi permentasi Jembrana. Ini kita buktikan komitmen perusahaan Perancis mengajak sejumlah koki (chef) hotel berbintang dari Jakarta dan Bali melihat langsung perkebunan petani coklat di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan,” katanya.

Sementara itu, seorang petani coklat asal Pulukan, Ketut Sukarta mengaku dengan pendampingan dari Yayasan Kalimajari petani di sini semakin bergairah, sebab dahulu pembeli coklat hanya mengandalkan dari tengkulak yang harganya sangat jauh dibanding sekarang di beli oleh Koperasi Kerta Semaya Samania.

“Saya selaku petani mengucapkan terima kasih atas pendampingan dari Yayasan Kalimajari. Berkat pendampingan tersebut koperasi kami sekarang maju, dan bisa bekerja sama dengan perusahaan yang memasok coklat, salah satunya dengan Valrhona dari Perancis,” katanya. (WDY)Petani kakao  di bawah Koperasi Kerta Semaya di Kabupaten Jembrana Bali kini menjadi incaran para

ia akan menjadi tuan rumah Bali International Cacao Festival (BICF).

Festival pada 28-31 Agustus 2014 nanti ini akan mempertemukan aktor-aktor dalam bisnis kakao.

Selama empat hari festival tersebut, peserta BICF akan berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait bisnis kakao. Tak hanya petani dan pemerintah, beberapa perusahaan pengolahan cokelat internasional pun akan hadir dalam kegiatan bertema Smallholders are Potential Partner ini.

Ada lima kegiatan selama BICF ini yaitu Cocoa Highlight Exhibition, International Conference and Workshop, Culinary Chocolate Day Event, Cultural Event, CSR Company Event, dan Business Gathering.

Menurut Ketua Panitia BICF I Gusti Agung Ayu Widiastuti pameran selama tiga hari akan diikuti perwakilan petani kakao di Indonesia, dinas terkait, swasta, pabrik, buyer kakao, perbankan dan komponen lainnya.

Kelompok petani kakao yang akan hadir terutama dari pusat-pusat produksi kakao di Indonesia seperti Nangroe Aceh Darusalam, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, hingga Papua.

Adapun workshop dan konferensi menjadi media berbagi pengalaman dan informasi terkait pelaksanaan program kakao skala nasional dan regional Asia.

Sedangkan dalam Culinary Chocolate Day Event akan ada kampanye ‘minum coklat bersama’. “Tujuannya untuk menumbuhkan spirit baru melestarikan kakao sebagai simbol kebanggaan petani terhadap komoditas yang mereka hasilkan,” kata Widiastuti yang juga Direktur Yayasan Kalimajari, lembaga swadaya masyarakat pendamping petani kakao di Bali ini.

Beberapa kesenian khas Jembrana seperti jegog dan mekepung akan melengkapi kegiatan yang diadakan pertama kali tersebut. “Suguhan budaya diharapkan mampu menambah spirit, bahwa kakao tumbuh selain karena alam juga karena bagian dari budaya dan hati,” tambah Widiastuti.

Seluruh kegiatan akan dipusatkann di Gedung Kesenian Bung Karno, Negara, Jembrana.

Widiastuti menambahkan, ada tiga tujuan utama BICF. Pertama, membentuk wadah strategis bagi semua komponen perkakaoan di Indonesia dan Regional Asia dalam membangun komitmen untuk bersama-sama memajukan komoditi kakao secara berkelanjutan.

Kedua, festival ini diharapkan mampu memperkuat posisi tawar petani dalam bisnis kakao dengan semua pihak. Ketiga, festival ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk menyamakan kembali persepsi dan implementasi dalam pengembangan kakao secara berkelanjutan.

Widiastuti menambahkan Indonesia selama ini merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Padahal, negara ini memiliki potensi kakao lebih besar. “Potensi kakao Indonesia belum tergarap secara optimal,” ujar Widiastuti.

Salah satu upaya yang dilakukan Kalimajari selama ini adalah mendampingi petani kakao agar bisa memproduksi lebih baik. Melalui perbaikan cara budi daya, petani bisa mendapatkan hasil lebih berkualitas dan lebih banyak.

Salah satu bukti perbaikan kualitas tersebut adalah adanya sertifikat kakao berkelanjutan yang dimiliki kelompok petani kakao di Jembrana. “Ini merupakan prestasi karena petani Jembrana adalah kelompok petani pertama di Indonesia yang bisa memiliki sertifikat kakao berkelanjutan,” lanjut Widiastuti.

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu sentra produksi kakao di Bali selain Tabanan.

“Festival ini sekaligus sebagai penghargaan terhadap prestasi petani kakao di Bali, khususnya Jembrana,” kata Widiastuti. [b]

Antusiasme petani Bali menanam Kakao ternyata masih tinggi. Walau dalam sepuluh tahun terakhir dibeberapa wilayah, tanaman Kakao mengalami serangan jamur dan penyakit.

Saat ini areal perkebunan Kakau yang masih produktif ada di Kabupaten Jembrana mencapai luasan 6.226 Ha, terbesar di Bali.

Di Kecamatan Mendoyo saja terdapat 400 Ha lahan perkebunan Kakao. Bahkan di Mendoyo petani Kakao sudah mengarah ke sistem pertanian organik. Salah satu Subak yang sudah menjalankan sistem organik ada di Banjar Pasatan Desa Poh Santen Kecamatan Mendoyo Jembrana. Banjar ini memiliki ketinggian sekitar 160 mdl.

Dok EBN : Suasana Banjar Pasatan Desa Poh Santen Jembrana Bali

Saat ditemui di kebunnya di banjar Pasatan Kamis (19/5/2016), salah seorang Petani Kakao Made Sugandi mengaku sudah sejak lama menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) untuk tanaman Kakaonya.  Tanaman Kakao di kebun Made Sugandi nampak sehat dan berbuah cukup lebat dan besar-besar.

Petani Bajar Pasatan merupakan anggota Subak Abian Dwi Mekar dan pada tahun 2016 ini sebanyak 33 orang anggotanya membentuk Kelompok Tani Kakao Organik dengan nama Kelompok Tani “Amerta Urip”.

Kata Sugandi,“berkat Kakao dengaan Sertifikat Organik dari Kabupaten Jembaran, nama “merah putih” (Indonesia-red) menjadi harum di Perancis, informasi itu kami dengar dari staf Kementerian Pertanian RI, “terang Sugandi yang baru saja pulang dari Jakarta.

Sementara anggota kelompok lainnya Ketut Sapandi mengatakan, Sertifikat Kakao Organik sudah diperoleh setahun lalu, dan proses panjang sertifikasi sudah dilakukan sejak tahun 2006 silam, hal ini tidak lepas dari perhatian serius pemerintah Kabupaten Jembrana, paparnya.

Petani Kakao di Kabupaten Jembrana kini sebagian besar sudah bergabung menjadi anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya. Koperasi ini ikut membantu kebutuhan dan pemasaran Kakao yang ada di Jembrana.  Mengenai harga, Ketua Koperasi I Ketut Wiadnyana mengatakan harga Kakao bijian kering dengan sistem organik tahun ini mencapai harga Rp.38.000 per kg. Bahkan yang menarik, berdasarkan penilaian Patroma Perancis, Kakao dengan UTZ sertifikasi di Jembrana juga memiliki kelebihan yaitu memiliki profil aromatik (aroma khusus) satu-satunya di Asia. “Tahun ini kami memperoleh harga yang cukup bagus sehingga pendapatan petani meningkat, pemasaran sangat lancar”terang Wiadnyana.


Dok EBN : Made Sugandi menjelaskan kondisi tanaman Kakao dan proses sertifikasi organik

“Di Kecamatan Mendoyo luas lahan Kakao mencapai 400 Hektar dengan produksi rata-rata mencapai 800 kg -1.000 kh per hektar, dengan perawatan organik yang intensif, petani di banjar Pasatan sudah ada yang mampu mencapai produksi hingga 2.000 kg per hektar, produksi meningkat hingga 50%,”imbuhnya.

Prestasi organik yang diraih petani Kakao di banjar Pasatan Desa Poh Santen Jembrana juga menjadi perhatian serius manajemen PT. Lumbung Mas, Seragen Jateng. Perusahaan ini sejak tahun 2010 memproduksi pupuk organik yang telah banyak digunakan oleh petani di Indonesia seperti petani tebu, sayur, buah-buahan dan tanaman keras lainnya. (EBN01).

Dalam sebuah proses pemikiran yang sederhana, Yayasan Kalimajari hadir, mengalir, berbagi dan membangun bersama dengan masyarakat dalam penguatan dan pengembangan komoditi lokal secara berkelanjutan. Berbagai cerita dan perjalanan program dari berbagai simpul wilayah di Indonesia, mampu mengantarkan keyakinan bahwa “berbagi adalah sebuah karya”. Keyakinan dan spirit inilah yang mampu mengantarkan kami untuk merangkai cerita perjalanan program dan pembelajaran sampai dengan detik ini.

Berbagai mandat, kepercayaan dan kerjasama datang silih berganti dari berbagai pihak untuk diramu menjadi satu bekal guna mengembangkan, mengalihkan dan menguatkan kelembagaan serta masyarakat dampingan untuk berkembang bersama-sama dalam pengembangan komoditi/potensi lokal secara berkelanjutan.

Komoditi lokal di suatu wilayah, seyogyanya mampu tumbuh sebagai pondasi ekonomi yang dapat berperan besar dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya.

Satu-persatu hasil karya, buah kerja keras dan upaya untuk berbagi mampu menjadi “catatan kecil” yang mengantarkan Yayasan Kalimajari merangkai cerita program. Kami percaya karena karya tersebut, membuat kami bermakna karena kami ada dan senantiasa berbagi.

Komoditas unggulan petani coklat (kakao) Kabupaten Jembrana, Bali, semakin dilirik pasar dunia, salah satunya dari perusahaan Perancis.

“Perusahaan kami memang mencari komoditas coklat berkualitas, salah satunya untuk di Asia adalah baru di Kabupaten Jembrana,” kata juru bicara Perusahaan Valrhona, Marc Le Moullec di sela meninjau perkebunan coklat, di Desa Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali, Sabtu.

Ia mengatakan komoditas coklat yang ada di Kabupaten Jembrana, khususnya di bawah naungan Koperasi Kerta Semaya Samania sudah menerapkan mulai dari seleksi pemetikan biji hingga pengeringan dengan sistem permentasi.

“Biji coklat yang diproses melalui permentasi akan menghasilkan kualitas terbaik, dan inilah yang dicari perusahaan kami, sehingga untuk proses produksi selanjutnya akan menghasilkan produk coklat premium,” ucapnya.

Marc Moullec mengaku pihaknya sudah dua tahun berada di Bali dan melakukan kerja sama dengan para petani coklat yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samania (KSS). Dengan pendampingan kerja sama ini penghasilan para petani sudah ada peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Target koperasi untuk komoditas coklat saat ini sebanyak 300 ton per tahun. Dari jumlah tersebut kami baru bisa mendapatkan 12,5 ton per tahun atau satu kontainer untuk memenuhi perusahaan kami di Perancis,” ujarnya.

Ia mengatakan untuk biji coklat yang diproses dengan permentasi guna memenuhi produk perusahaan Valrhona, untuk kawasan Asia baru dari Jembrana saja.

“Khusus coklat yang berasal dari Jembrana (Bali) perusahaan kami sudah memasarkan di sejumlah negara, antara lain Bangkok, Hong Kong, Korea, Malaysia, Paris dan Beijing. Kami juga masih menunggu respon pasar dari negara tersebut mengenai coklat asal Bali ini,” kata Marc Mollec yang didampingi Direktur Yayasan Kalimajari Denpasar Agung Widiastuti.

Marc Mollec lebih lanjut mengatakan biji coklat yang diproses dengan sistem permentasi akan menghasilkan hasil yang berkualitas dan memiliki kekhasan aroma dibanding dengan sistem biasa.

“Memang kelebihan coklat atau kakao yang di proses oleh Koperasi KSS Jembrana adalah dengan sistem permentasi, sehingga hasilnya pun lebih berkualitas. Dari Perusahaan kami memberi jaminan setahun ke depan untuk kerja sama, mulai dari pendampingan petani hingga sampai proses pengeringan dan membelinya,” ucapnya.

Marc Mollec berharap dengan kerja sama ini para petani akan terus meningkatkan hasil produksinya sehingga bisa memenuhi kebutuhan pangsa pasar komoditas coklat di dunia.

“Dari perusahaan kami baru bisa mendapatkan biji coklat dari koperasi ini sebanyak 12,5 persen dari target koperasi mencapai 300 ton per tahun. Kalau nantinya bisa memenuhi target tersebut, langkah yang dilakukan koperasi sangat baik,” katanya. (WDY)

Hadirnya di tahun 20

Koperasi punya historis panjang di Indonesia. Menurut Bung Hatta, gerakan kebangsaan Indonesia sudah mengadopsi koperasi ini. Maklum, filosofi koperasi sama dengan semangat self-help.

Saat itu, gerakan nasional percaya, kapitalisme tak cocok dengan alam Indonesia. Gerakan moderat semacam Boedi Oetomo (BO) saja menyebut kapitalisme sebagai “suatu tanaman dari negeri asing”.

Negara – Denpasar Selatan (105.1 km)

Perjalanan panjang kakao fermentasi Jembrana menuju Penghargaan Dunia ke Salon du Chocolat Paris, Cocoa Excellent 2017.

Kakao fermentasi Jembrana dalam perjalanan panjangnya mulai tahun 2011 sampai dengan tahun ini, menunjukkan hasil yang maksimal. Komitmen, konsistensi, kerja bersama dengan melebur ego wilayah dan ego petani dibawah naungan subak abian dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya, pada akhirnya telah mampu menolehkan sejarah cemerlang dalam per-kakao-an Indonesia. Sejarah ini tertuang secara fakta dalam bentuk Penghargaan Cocoa of Excellent 2017, sebagai sample biji kakao fermetasi yang terpilih masuk dalam jajarang 50 besar dunia. Biji kakao Jembrana, terpilih dari 166 sampel dari 44 negara produsen kakao di dunia. Jembrana mewakili Indonesia dari 4 sample yang terkirim dari berbagai tempat di Indonesia. Penghargaan tertinggi dalam kualitas biji kakao fermentasi ini, diberikan dalam event besar dunia Salon du Chocolat di Paris – Perancis tanggal 30 Oktober 2017, tempat dimana semua penggiat, pebisnis dan pemerhati kakao dan coklat dunia berkumpul.

Program Cocoa Excellent ini diadakan setiap 2 tahun sekali, untuk menenukan biji kakao fermetasi dari seluruh belahan dunia untuk diadu dan ditemukan profile aromatic dan kualitas yang unik. Program ini digagas oleh Bioversity International dan semua biji kakao yang masuk diseleksi oleh para juri kelas dunia yang sangat ahli dalam bidang aromatic. Di Indonesia, agenda ini difasilitasi oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember/Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI). Sampel berasal dari kebun kakao Bapak I Made Sugandi, anggota dari Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen Jembrana, yang difasilitasi dan didampingi selama 6 tahun oleh Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya.

Makna penting dari masuknya jajaran 50 besar dunia, bahwa ini bukan hanya sebuah deretan angka semata, namun tersimpan perjuangan dan proses yang tidak kenal lelah. Program strategis ini terbangun atas kerjasama Yayasan Kalimajari, Koperasi Kerta Semaya Samaniya, Dinas Perkebunan dan Dinas Koperasi Kabupaten Jembrana serta berbagai komponen lainnya yang telah memberikan dukungan. Salah satu yang memberikan dorongan kuat tentang fermentasi adalah Valrhona. Kolaborasi dengan Valrhona sudah berjalan 3 tahun dan proses pembelajaran tentang konsistensi fermentasi dan kualitas menjadi persyaratan penting dalam kerjasama ini.  Hanya biji fermentasi yang dapat masuk dalam kompetisi bergengsi ini dan Valrhona salah satunya yang menempatkan pondasi penting  dalam perkembangan KSS. Penghargaan ini sebagai sebuah bentuk pembuktian dan dedikasi kualitas kakao Jembrana, Bali dan Indonesia, yang selama ini dikenal hanya berorientasi pada non fermentasi produk saja.

Tantangan petani kakao Jembrana akan semakin besar ke depannya untuk menjaga komitmen dan kualitas biji kakao fermentasinya. Inovasi dan konsistensi menjaga kebun serta memperkuat fermentasi dari sisi kualitas dan volume, merupakan “PR” besar bagi Jembrana dengan seluruh komponennya. Harapan besar dengan penghargaan ini, kakao Jembrana akan semakin diminati sehingga mampu meningkatkan posisi tawar petani. Pencapaian ini juga sebagai pembuktian bahwa koperasi bersama dengan anggotanya, konsisten dalam mengibarkan bendera fermentasi sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas kakao Jembrana, Bali dan Indonesia. Kondisi ini juga sebagai pembuktian atas sumbangsih Jembrana terhadap upaya pembuktian kualitas kakao Indonesia yang dapat bersaing dalam kancah global. Tidak mudah memang, tapi Jembrana pada akhirnya menjadi yang terpilih sebagai salah satu pemenang. Bravo kakao Jembrana….

Komoditas unggulan coklat (kakao) yang dihasilkan Koperasi Kerta Semaya Samania , Kabupaten Jembrana, Bali, berhasil menyabet penghargaan coklat dunia dari “Cocoa Exellence 2017”.

“Penghargaan yang diterima oleh kelompok petani Koperasi Kerta Semaya Samania adalah pengakuan dari sertifikasi dunia bidang kakao. Untuk memperoleh penghargaan tersebut ada kreteria tertentu oleh pihak penyelenggara ajang `Cocoa Exellence`,” kata Direktur Yayasan Kalimajari Denpasar Agung Widiastuti di Pakutatan, Jembrana, Bali, Sabtu.

Widiastuti selaku pendamping Koperasi Kerta Semaya Samania mengatakan penghargaan “Cocoa Exellence 2017” merupakan ajang bergengsi dalam sektor perkebunan coklat, salah satu untuk menjadi peserta adalah biji coklat memiliki kekhasan. Dan coklat asal Jembrana kekhasan itu ada pada aromanya. Sehingga pihak koperasi pun mengirimkan sampel coklat ke pihak panitia penyelenggara penghargaan tersebut.

“Peserta ajang tersebut diikuti dari 66 negara di dunia dengan 166 sampel coklat. Sampel coklat dari Jembrana masuk lima puluh besar, sehingga berhak menyabet penghargaan tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kelompok tani coklat yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samania saat ini berjumlah 35 subak abian (kelompok tani tradisional Bali) dengan anggota 558 petani. Sedangkan luas lahan perkebunan mencapai 600 hektare lebih. Waktu mengirim sampel itu menggunakan coklat milik petani Made Sugandi. Namun yang mendaftarkan adalah pihak koperasi ke panitia tersebut.

“Kelebihan coklat di Kabupaten Jembrana dari hasil penelitian memiliki kekhasan, yakni pada aroma, buah, bunga, rempah dan madu. Ini bisa terjadi karena penanaman coklat tersebut juga ditentukan dari kontur tanah, termasuk juga sistem tumpang sari,” ucapnya.

Menurut Widiastuti, tanaman coklat memerlukan penaung atau pelindung dari tanaman lain. Maka dari itu, petani coklat di Jembrana menggunakan sistem tumpang sari.

“Jadi, penerapan tumpang sari ini yang menjadi salah satu coklat Jembrana memiliki kekhasan tersendiri dibanding dengan coklat daerah lainnya. Sebab dengan sistem tumpang sari, salah satu menyebabkan coklat Jembrana memiliki ciri khas. sebab di dalam kebun coklat petani menanam pohon pisang, kelapa, termasuk juga petani membuat kotak rumah lebah,” ucapnya.

Widiastuti mengatakan petani yang tergabung dalam koperasi ini pendapatannya sudah ada peningkatan dibanding enam tahun lalu sebelum ada pendampingan dari Yayasan Kalimajari.

“Kami terus melakukan sosialisasi dan memotivasi para petani agar mampu menghasilkan biji coklat berkualitas. Tujuan dari yayasan kami tidak semata-mata meningkatkan kualitas coklat, tetapi bagaimana upaya melestarikan coklat ini untuk generasi selanjutnya di Jembrana,” ucap wanita asal Desa Sangeh, Kabupaten Badung.

Ia mengatakan hasil petani coklat sekarang sudah ada peningkatan, baik dari jumlah maupun kualitas untuk siap di ekspor di pasar dunia. Terlebih saat ini sudah ada kerja sama dengan pembeli dari luar negeri.

“Kerja sama dan pendampingan dari salah satu perusahaan Valrhona asal Perancis akan semakin menggairahkan petani coklat. Karena perusahaan ini ke depan mengharapkan lebih banyak bisa mengambil biji kopi permentasi Jembrana. Ini kita buktikan komitmen perusahaan Perancis mengajak sejumlah koki (chef) hotel berbintang dari Jakarta dan Bali melihat langsung perkebunan petani coklat di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan,” katanya.

Sementara itu, seorang petani coklat asal Pulukan, Ketut Sukarta mengaku dengan pendampingan dari Yayasan Kalimajari petani di sini semakin bergairah, sebab dahulu pembeli coklat hanya mengandalkan dari tengkulak yang harganya sangat jauh dibanding sekarang di beli oleh Koperasi Kerta Semaya Samania.

“Saya selaku petani mengucapkan terima kasih atas pendampingan dari Yayasan Kalimajari. Berkat pendampingan tersebut koperasi kami sekarang maju, dan bisa bekerja sama dengan perusahaan yang memasok coklat, salah satunya dengan Valrhona dari Perancis,” katanya. (WDY)Petani kakao  di bawah Koperasi Kerta Semaya di Kabupaten Jembrana Bali kini menjadi incaran para importir kakao dunia.

Berkat kualitas kakao yang terus dijaga kualitasnya oleh petani, Koperasi Kerta Semaya sudah mampu mengekspor kakao permentasi ke Perancis (Valrhona), Jepang, Australia dan Amerika.

“Berbagai pelatihan yang kami lakukan kepada koperasi mulai dari pelatihan GAP (Good Agriculture Practices), GMP (Good Manufacturing Practices), pelatihan management, juga  akselerasi dengan pihak perbankan. Bimbingan produksi kakao yang baik mulai dari paska panen hingga panen dan pasar yang baik, karena punya produksi yang baik kalau tidak memiliki pasar juga percuma,” kata Agung Widyastuti Direktur Yayasan Kalimajari di Jembrana Bali, Rabu (22/11).

Agung Widyastuti Direktur Yayasan Kalimajari pendoronmg semnagat Koperasi Kerta Semaya Kabupaten Jembrana Bali sehingga kini mandiri dan sukses/ AM

Menurut Agung Widyastuti, Koperasi Kerta Semaya Kabupaten Jembrana Bali, yang sempat tidak produktif telah berdiri tahun 2006 pada tahun 2011, Yayasan Kalimajari atas dukungan berbagai pihak mencoba untuk membangkitkan peran koperasi dalam mempertahankan potensi kakao permentasi.

Koperasi Kerta Semaya sebagai koperasi yang mewadahi potensi unggulan kakao permentasi di Kabupaten Jembrana dengan anggota koperasi petani kakao yang terus meningkat, berhasil mengekpor kakao permentasi dari hanya 55 ton kini sudah mampu mengekspor mencapai 75 ton biji kakao permentasi.

Keberhasilan peningkatan kualitas dan ekspor tidak lepas dari peran importir Valrhona dari Prancis, produsen cokelat yang ikut terlibat memberikan bimbingan dari pasca panen hingga panen yang baik.

“Tidak semua importir seperti Valrhona produsen cokelat dari Prancis lakukan, yang antusias terjun langsung ke petani untuk memberikan bimbingan kepada petani dari cara merawat pohon kakao hingga panen dan menghasilkan biji kakao yang berkualitas ekspor,” kata Agung Widyastuti.

Tak heran kalau Koperasi Kerta Semaya sebagai koperasi yang mewadahi potensi unggulan kakao permentasi di Kabupaten Jembrana Bali, yang pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil memperoleh penghargaan Sertifikat organik USDA (United State Department of Agriculture) dan EU (European Union) dari Control Union selaku lembaga sertifikasi. Juga penghargaan UTZ certifikasi.

Menurut Agung Widyastuti, dengan UTZ certifikasi yang mengadopsi sistem berkelanjutan, mampu menempatkan posisi tawar petani kakao permentasi semakin kuat dalam mata rantai produksi sampai dengan pemasaran.

Petani Kakao Jembrana bersama Marc Le Moullec/am

Menurut Marc Le Moullec yang akrab dengan panggilan Marco perwakilan Valrhona, di Indonesia banyak penghasil kakao, tapi biji kakao permentasi dengan kualitas baik hanya terdapat di Kabupaten Jembrana Bali.

“Petani kakao permentasi di Jembrana termasuk petani yang ulet bisa menghasilkan kakao permentasi berkualitas ekspor, karena bisa menghasilkan kakao permentasi  yang baik membutuhkan waktu yang cukup panjang, mereka sangat ulet dan sabar juga semangat agar bisa menghasilkan kakao permentasi yang baik. Ini jarang dilakukan oleh petanilain umumnya begitu panen kakaonya langsung dijual agar cepat dapatkan uang,” tegas Marco.

Menurut Thomas CEO Classic Fine Foods, perhatian Valrhona Prancis sebagai importir kakao permentasi kepada petani dan Koperasi Kerta Semaya Kabupaten Jembrana Bali, dari pasca panen hingga menghasilkan kakao permentasi kualitas ekspor tidak sampaindisitu, kedepannya akan bekerjasama dibidang pendidikan kusus kuliner Politeknik Internasional Bali yang kampusnya terletak di Pantai Nyanyi, Kabupaten Tabanan.

“Selain bekerjasama dibidang pendidikan kedepannya Valrhona juga berencana membuat pabrik cokelat di Bali,” kata Tomas di kampus Politeknik Internasional Bali.

Di kampus itu yang cukup lengkap sarana dan prasarananya untuk pendidikan kuliner, Thomas dihadapan para ahli pastry dan distributor perkenalkan produk cokelat produksi Valrhona dan demo membuat cake dari cokelat. l Edy

 

 

Kabupaten Jembrana akan menjadi tuan rumah Bali International Cacao Festival (BICF).

Festival pada 28-31 Agustus 2014 nanti ini akan mempertemukan aktor-aktor dalam bisnis kakao.

Selama empat hari festival tersebut, peserta BICF akan berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait bisnis kakao. Tak hanya petani dan pemerintah, beberapa perusahaan pengolahan cokelat internasional pun akan hadir dalam kegiatan bertema Smallholders are Potential Partner ini.

Ada lima kegiatan selama BICF ini yaitu Cocoa Highlight Exhibition, International Conference and Workshop, Culinary Chocolate Day Event, Cultural Event, CSR Company Event, dan Business Gathering.

Menurut Ketua Panitia BICF I Gusti Agung Ayu Widiastuti pameran selama tiga hari akan diikuti perwakilan petani kakao di Indonesia, dinas terkait, swasta, pabrik, buyer kakao, perbankan dan komponen lainnya.

Kelompok petani kakao yang akan hadir terutama dari pusat-pusat produksi kakao di Indonesia seperti Nangroe Aceh Darusalam, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, hingga Papua.

Adapun workshop dan konferensi menjadi media berbagi pengalaman dan informasi terkait pelaksanaan program kakao skala nasional dan regional Asia.

Sedangkan dalam Culinary Chocolate Day Event akan ada kampanye ‘minum coklat bersama’. “Tujuannya untuk menumbuhkan spirit baru melestarikan kakao sebagai simbol kebanggaan petani terhadap komoditas yang mereka hasilkan,” kata Widiastuti yang juga Direktur Yayasan Kalimajari, lembaga swadaya masyarakat pendamping petani kakao di Bali ini.

Beberapa kesenian khas Jembrana seperti jegog dan mekepung akan melengkapi kegiatan yang diadakan pertama kali tersebut. “Suguhan budaya diharapkan mampu menambah spirit, bahwa kakao tumbuh selain karena alam juga karena bagian dari budaya dan hati,” tambah Widiastuti.

Seluruh kegiatan akan dipusatkann di Gedung Kesenian Bung Karno, Negara, Jembrana.

Widiastuti menambahkan, ada tiga tujuan utama BICF. Pertama, membentuk wadah strategis bagi semua komponen perkakaoan di Indonesia dan Regional Asia dalam membangun komitmen untuk bersama-sama memajukan komoditi kakao secara berkelanjutan.

Kedua, festival ini diharapkan mampu memperkuat posisi tawar petani dalam bisnis kakao dengan semua pihak. Ketiga, festival ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk menyamakan kembali persepsi dan implementasi dalam pengembangan kakao secara berkelanjutan.

Widiastuti menambahkan Indonesia selama ini merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Padahal, negara ini memiliki potensi kakao lebih besar. “Potensi kakao Indonesia belum tergarap secara optimal,” ujar Widiastuti.

Salah satu upaya yang dilakukan Kalimajari selama ini adalah mendampingi petani kakao agar bisa memproduksi lebih baik. Melalui perbaikan cara budi daya, petani bisa mendapatkan hasil lebih berkualitas dan lebih banyak.

Salah satu bukti perbaikan kualitas tersebut adalah adanya sertifikat kakao berkelanjutan yang dimiliki kelompok petani kakao di Jembrana. “Ini merupakan prestasi karena petani Jembrana adalah kelompok petani pertama di Indonesia yang bisa memiliki sertifikat kakao berkelanjutan,” lanjut Widiastuti.

Kabupaten Jembrana merupakan salah satu sentra produksi kakao di Bali selain Tabanan.

“Festival ini sekaligus sebagai penghargaan terhadap prestasi petani kakao di Bali, khususnya Jembrana,” kata Widiastuti. [b]

Antusiasme petani Bali menanam Kakao ternyata masih tinggi. Walau dalam sepuluh tahun terakhir dibeberapa wilayah, tanaman Kakao mengalami serangan jamur dan penyakit.

Saat ini areal perkebunan Kakau yang masih produktif ada di Kabupaten Jembrana mencapai luasan 6.226 Ha, terbesar di Bali.

Di Kecamatan Mendoyo saja terdapat 400 Ha lahan perkebunan Kakao. Bahkan di Mendoyo petani Kakao sudah mengarah ke sistem pertanian organik. Salah satu Subak yang sudah menjalankan sistem organik ada di Banjar Pasatan Desa Poh Santen Kecamatan Mendoyo Jembrana. Banjar ini memiliki ketinggian sekitar 160 mdl.

Dok EBN : Suasana Banjar Pasatan Desa Poh Santen Jembrana Bali

Saat ditemui di kebunnya di banjar Pasatan Kamis (19/5/2016), salah seorang Petani Kakao Made Sugandi mengaku sudah sejak lama menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) untuk tanaman Kakaonya.  Tanaman Kakao di kebun Made Sugandi nampak sehat dan berbuah cukup lebat dan besar-besar.

Petani Bajar Pasatan merupakan anggota Subak Abian Dwi Mekar dan pada tahun 2016 ini sebanyak 33 orang anggotanya membentuk Kelompok Tani Kakao Organik dengan nama Kelompok Tani “Amerta Urip”.

Kata Sugandi,“berkat Kakao dengaan Sertifikat Organik dari Kabupaten Jembaran, nama “merah putih” (Indonesia-red) menjadi harum di Perancis, informasi itu kami dengar dari staf Kementerian Pertanian RI, “terang Sugandi yang baru saja pulang dari Jakarta.

Sementara anggota kelompok lainnya Ketut Sapandi mengatakan, Sertifikat Kakao Organik sudah diperoleh setahun lalu, dan proses panjang sertifikasi sudah dilakukan sejak tahun 2006 silam, hal ini tidak lepas dari perhatian serius pemerintah Kabupaten Jembrana, paparnya.

Petani Kakao di Kabupaten Jembrana kini sebagian besar sudah bergabung menjadi anggota Koperasi Kerta Semaya Samaniya. Koperasi ini ikut membantu kebutuhan dan pemasaran Kakao yang ada di Jembrana.  Mengenai harga, Ketua Koperasi I Ketut Wiadnyana mengatakan harga Kakao bijian kering dengan sistem organik tahun ini mencapai harga Rp.38.000 per kg. Bahkan yang menarik, berdasarkan penilaian Patroma Perancis, Kakao dengan UTZ sertifikasi di Jembrana juga memiliki kelebihan yaitu memiliki profil aromatik (aroma khusus) satu-satunya di Asia. “Tahun ini kami memperoleh harga yang cukup bagus sehingga pendapatan petani meningkat, pemasaran sangat lancar”terang Wiadnyana.