Home Dunia IMF DAN KERUSUHAN MEI 1998

IMF DAN KERUSUHAN MEI 1998

757
0

IMF DAN KERUSUHAN MEI 1998

Indonesia punya sejarah kelam saat berurusan dengan IMF. Bukannya keluar dari krisis moneter tahun 1998, Indonesia malah terjerumus ke dalam krisis ekonomi hingga mematik kerusuhan di bidang politik dan keamanan.

Ekonom Rizal Ramli, mengungkapkan saat-saat paling buruk ketika IMF mendikte pemerintah Indonesia di era 1998.

Rizal masih mengingat dia menjadi salah satu ekonom yang diundang pemerintah untuk bertemu dengan petinggi IMF di Jakarta. Dengan keras Rizal menentang masuknya IMF saat itu.

“Cuma saya dulu ekonom yang menentang masuknya IMF. Saya bilang keras-keras, Indonesia tidak butuh IMF. Krisis akan makin buruk kalau IMF diundang masuk ke Indonesia,” tegas Rizal kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.

Namun terlambat, keesokan harinya Presiden Soeharto meneken perjanjian dengan IMF. Bos IMF Michael Camdessus menyaksikan momen penandatanganan tanggal 15 Januari 1998 itu sambil menyilangkan kedua lengan di dada. Sementara Soeharto membungkuk untuk menandatangani Letter of Intent (LoI). Inilah momen kekalahan Indonesia oleh IMF.

Kekhawatiran Rizal soal IMF bukan tanpa alasan. Dia melihat beberapa negara malah terperosok makin dalam. Benar saja, IMF segera mengeluarkan aneka kebijakan yang membuat situasi makin buruk.

“Begitu IMF masuk, dia sarankan tingkat bunga bank dinaikkan dari 18 persen rata-rata jadi 80 persen. Banyak perusahaan langsung bangkrut,” kata Rizal.

Saran IMF untuk menutup 16 bank juga menuai polemik. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada perbankan Indonesia. Para nasabah ramai-ramai menarik uang simpanan mereka di bank.

Dari sini pemerintah terpaksa menyuntikkan dana BLBI sebesar US$ 80 miliar. Inilah awal mula kasus korupsi megatriliunan yang belum tuntas di Indonesia.

Namun yang paling parah, IMF meminta Indonesia menaikkan harga BBM. Akhirnya pada 1 Mei 1998, Presiden Soeharto menaikkan harga BBM hingga 74 persen. Hal ini menurut Rizal yang memantik kerusuhan besar-besaran di Indonesia.

“Besoknya demonstrasi besar-besaran. Kerusuhan di mana-mana, ribuan orang meninggal. Rupiah anjlok,” kata Rizal.

Butuh bertahun-tahun hingga Indonesia bisa keluar dari krisis ekonomi itu. Rizal membandingkan sikap Malaysia yang menolak IMF dan mengeluarkan kebijakan ketat soal moneter. Hasilnya mereka dengan mudah keluar dari krisis.

Karena itu saat menjadi Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli tak sudi menuruti saran IMF. Menurutnya, cuma di era Gus Dur ada presiden tak menambah jumlah utang negara.

“Waktu saya masuk, minus 3 persen ekonominya. Kami putuskan tidak mengikuti kebijakan IMF, kita jalan sendiri dengan segala kontroversinya,” kata Rizal.

Rizal mengaku bisa menarik napas lega saat perekonomian Indonesia yang tadinya minus 3 persen dalam kurun waktu 2 tahun tumbuh menjadi hampir 6,5 persen.

Mimpi buruk soal IMF itu masih diingat. “Indonesia tak perlu bantuan IMF,” katanya.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dan timnya berkunjung ke Jakarta. Presiden Jokowi kemudian mengajak Legarde blusukan ke sejumlah tempat. Mulai dari rumah sakit hingga pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat.

Namun Jokowi menyebut belum ada rencana kerja sama antara Indonesia dan IMF. Namun, tidak menutup kemungkinan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, pada Oktober mendatang.

“Kerja samanya nanti di bulan Oktober, akan ada IMF-World Bank annual meeting,” kata Jokowi.

[09:22, 2/28/2018] +62 812-8998-1227: Jebakan IMF untuk masa depan Indonesia

Almarhum Moerdiono, SekNeg Pak Harto, “mengakui kesalahan paling besar sepanjang karirnya” adalah membantu membujuk Pres Soeharto utk tandatangani LOI IMF, yang sengaja dirancang utk gagal karena ada 140 prasyarat (condionalities) yg tidak masuk akal dan sebagian besar, tidak ada hubungannya dengan stabilitas moneter dan kurs rupiah.

Krisis dimulai di Thailand Juli 1997. Semua pihak membantah, bahkan IMF & Bank Dunia memuji, bahwa Indonesia super sehat dan tidak akan kena krisis. Rizal Ramli satu-satunya yang meramalkan bahwa Indonesia akan kena krisis di tahun 1997-78, dalam Economic Outlook Econit Oktober 1996. Karena terlalu banyak utang swasta, defisit current account yg besar dan Rupiah yg over-valued 8%.

Bank Dunia, IMF, pejabat-pejabat memuji dan membantah bahwa Ekonomi Indonesia sehat dan tidak bakal kena krisis.

Ketika krisis tiba, Korea cepat melakukan restrukturisasi utang swasta, sehingga cepat pulih. Malaysia menolak campur tangan IMF dan paksakan capital control, sehingga ekonominya lolos dari krisis.

Indonesia minta tolong IMF, akibatnya ekonomi anjlok dari 6% ke -13%, dan kota-kota rusuh ratusan korban.

Baru setelah Rizal Ramli menulis di koran international, beri kuliah di Carnegie Center di Washington DC dan Oxford tentang Malpraktek IMF di Indonesia, IMF bentuk komite review tentang Indonesia, dipimpin oleh DR. Montek Aluwalia, Assisten Prof Hollis Chenery yang kemudian jadi Mentri Perencanaan India. Montek bujuk Rizal Ramli supaya bersedia diwawancara oleh komite review tersebut. Rizal Ramli bersedia karena kenal dan menghormati Prof Hollis Chenery, 2 tahun kemudian Komite review akhirnya mengakui berbagai kesalahan IMF di Indonesia. Nasi sudah jadi bubur, ekonomi anjlok -13%, biaya BLBI $80 milyar, bank dan korporasi hancur, Kurs Rupiah anjlok dari Rp 2500/$ jadi Rp 15.000/$.

Sekarang kok bisa banyak yang memuja-muja IMF di Indonesia sampai hari ini?. Jangan lupa sejarah IMF pernah malpraktek menghancurkan ekonomi Indonesia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here