Home Hukum Konsep yang terbelah, “Temu Kangen Aktivis 80 dan 90 an”

Konsep yang terbelah, “Temu Kangen Aktivis 80 dan 90 an”

123
0
SHARE

Dimulai dengan adegan tetrikal, ironi asmat, acara “Temu Kangen Aktivis 80 dan 90 an” di Galeri Cipta Taman Isnail Marzuki, Jakarta yang digagas Syahganda Nainggolan. Hadiir Gubenur DKI Jakarta yang beberapa kali diteriaki “presiden”.

Setelah adegan ironi asmat, di sayap teater muncul adegan ketoprak silih berganti dgn tari jawa kontemporer. Habis itu konsep opera itu berubah lukisan dekoratif yg memotret konsep nasionalisme. Itu memang hanya sebuah fragmen, potongan-potongan yang terengah-engah menyuguhkan gemerlap nasionalisme hura-hura. Dekorasi menutup fragmen ironi asmat setengah hati. Setahu saya, galeri cipta memang tak kunjung dipakai utk pagelaran. Stage, sound, lihghting system di situ tak memungkinkan bicara “seni pertunjukan”. Lebih dari itu, konsep yang kering. Sekilas saya lihat Gde Sriana di closing. Ohh.

Fragmen 2

Memori mulai dibuka. Luka-luka aktivis mahasiswa, sejak BKK hingga 21 Mei 1998. Pidato para aktivis yang hadir, yang kini sebagian telah menjadi penguasa, kecuali Hariman Siregar, di jajaran kursi terdepan, mengundang applaus. Saya tak tahu, kapan applaus itu untuk luka, kapan untuk tawa. Panggung itu untuk kemenangan mahasiswa demonstran sekaligus kekalahannya. Sebagian dari mereka mati menjadi nanah bercampur mesiu. Hari ini mereka sudah memiliki pahlawan: Anies Baswedan!

Fragmen 3

Pentas puisi diawali Marlin Dinamikanto. Puisi ironik juga. Soal Sinar Mas. Tanah!

(Djoko Edhi Abdurrahman).

LEAVE A REPLY