Home Energi Kenapa CEO Bukalapak Harus Minta Maaf kepada Jokowi?

Kenapa CEO Bukalapak Harus Minta Maaf kepada Jokowi?

63
0
SHARE
CEO Bukalapak Ahmad Zaky bertemu Presiden Joko Widodo didampingi Teten Masduki dan Pramonio Anung /Setgab

By Asyari Usman

Terpaksa kembali lagi ke terminologi yang sangat tidak kalian sukai, yaitu ‘akal sehat’. Kenapa? Karena sungguh tidak bisa dipahami mengapa CEO Bukalapak, Achmad Zaky (AZ), harus meminta maaf kepada Presiden Jokowi hanya gara-gara pernyataan yang sepele sekali. Hanya karena mengkritik besaran dana riset dan pengembangan (Research and Development atau RD) di negara ini yang terbilang kecil.

Benarlah adanya bahwa ‘akal sehat’ itu sedang ‘sakit’. Sakit parah.

AZ berpendapat bahwa dana RD Indonesia yang hanya USD2 (dua) miliar jauh tertinggal dibanding negara-negara Asia lainnya. Indonesia berada di urutan ke-43. Sedangkan Malaysia bisa menyediakan USD10 miliar sehingga menempati urutan ke-10. Taiwan di posisi ke-11 dengan jumlah USD33 miliar.

AZ mentwit penilaiannya yang sangat valid itu. Dia katakan, “Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini. Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin (menaikkannya-red).”

Bukankah AZ cuma berharap agar presiden baru nanti bisa memperbesar dana RD itu? Rasa-rasanya tidak ada yang aneh di dalam ungkapan CEO itu. Terus, apa yang menyinggung dari pernyataan ini? Apakah ada konten ujaran kebencian? Apakah ada unsur SARA atau hoax?

Betul-betul edan! AZ harus mendatangi Jokowi ke Istana untuk menyampaikan permintaan maaf. Untuk apa? Apa kesalahan yang dia lakukan? Mengkritik? Apa iya salah?

Mendukung Prabowo? Tidak juga. Cuma mengatakan “presiden baru nanti”. Secara normatif, siapa pun yang terpilih dia adalah “presiden baru”.

Oh, barangkali tersirat dukungan untuk Prabowo. So, what? Kenapa rupanya? Apakah itu dosa? Apakah AZ itu dirut BUMN? Atau, apakah Pak Jokowi punya saham di Bukalapak? Kalau punya saham, wajar jugalah. Meskipun tetap tidak perlu kritik yang sangat santun itu berakhir dengan ‘tekuk lutut’ Achmad Zaky.

Apakah mungkin ya ‘tekuk lutut’ ini yang diperlukan oleh Pak Jokowi? Rasanya tidaklah. Beliau itu ‘kan mengaku siap menerima kritik membangun. Seorang demokrat sejati.

Kalau dikatakan AZ ‘tak tahu berterima kasih’ setelah ditolong oleh Pak Jokowi dalam memajukan usahanya, juga bukan masalah besar. Dulu, konon, Jokowi bersaham memajukan Bukalapak melalui berbagai langkah, termasuk hadir di acara-acara yang sifatnya mempromosikan perusahaan ini.

Tapi, bukankah itu memang fungsi seorang presiden? Bukankah Presiden itu ‘wajib’ memikirkan dan melakukan langkah-langkah untuk membantu dunia usaha? Tentu saja iya. Dan untuk semua itu, seorang presiden tidak perlu dan tidak wajar mengharapkan ‘terima kasih’ dari orang atau kalangan yang dibantunya.

Jadi, susah sekali mencerna peristiwa minta maaf CEO Bukalapak. Hal yang sangat sepele harus menjadi berita besar. Ribut se-dunia.

Dan akhirnya rugi sendiri Pak Jokowi (ini kalau beliau bisa memahami kerugian itu). Rugi, karena justru tagar #UninstallJokowi dan #ShutDownJokowi yang menjadi topik trending dunia di Twitter. Bukan #UninstallBukalapak seperti yang dikampanyekan oleh para pendukung Pak Jokowi.

Kok kita ini semakin bergeser ke ‘Korea Utara’ ya. Atau malah lebih konyol. Barangkali, mendiang Kim Il-sung saja tidak akan merasa perlu warganya meminta maaf kalau ada kritik seperti yang disampaikan oleh AZ.

Walhasil, betul juga kata Prof Rocky Gerung. Ada persoalan ‘akal sehat’ di kalangan sebagian masyarakat Indonesia. Yaitu, di kalangan mereka yang sedang mati-matian merintangi gerak maju #InstallPrabowo ke kursi presiden.

(Penulis adalah wartawan senior)

LEAVE A REPLY