Home Kolom SANDIAGA UNO

SANDIAGA UNO

37
0
SHARE
Sandiaga Uno

OLEH Acep Iwan Saidi, Pakar Semiotika ITB

Suatau hari di tahun 2018, saya menulis esei pendek tentang Emil Dardak. Di bagian awal kurang lebih saya nulis begini, “Saya tidak kenal Emil Dardak. Dan sepertinya memang lebih baik tidak mengenalnya.

Sekarang, pada esei yang juga pendek ini, kalimat itu ingin kembali saya tulis untuk Sandiaga Salahuddin Uno. “Saya tidak mengenal Sandi. Dan lebih baik saya tidak mengenalnya”.

Musababnya simpel saja. Saya ingin memperhatikan—sekaligus mengapresiasi—dalam jarak. Tokoh-tokoh muda-brilian macam Sandi dan Dardak harus didorong untuk terus menjadi besar dengan cara memberinya penilaian yang objektif. Dan untuk itu, hemat saya, kita harus mengambil jarak.

Dulu, mulai tahun 2012 atau mungkin sebelumnya, saya juga termasuk orang yang mengagumi Jokowi. Informasi mengenai sepakterjangnya sebagai Walikota Solo membuat saya berdecak. Tapi, saya tidak berusaha mencari informasi untuk bisa “mengenalnya lebih dekat”. Ketika 2014 Jokowi dicalonkan sebagai presiden, banyak teman saya (seniman, sastrawan, budayawan, aktivis, pemikir, dll) bergabung menjadi relawannya. Saya tidak.

Namun, saya terus memberikan komentar positif di berbagai media (cetak, elektronik, online/medsos) terhadap pemilik citra pemimpin blusukan itu. Beberapa orang di kantor menyebut saya bersikap tidak netral. Berpihak. Saya menyikapinya dengan senyuman. Selalu kepada mereka saya jelaskan bahwa saya memang tidak netral. Saya berpihak kepada keyakinan metodologis yang saya kuasai. Lantas, beberapa teman mengajak lagi bergabung menjadi relawan. Saya tetap menolaknya.

Pada sebuah esei panjang yang ditulis menjelang Hari H pemilihan, saya menjelaskan tentang nalar semiotika untuk memilih presiden. Tulisan itu sesungguhnya merupakan penegasan keyakinan saya tentang keunggulan Jokowi dibandingkan lawan politiknya (Prabowo-Hatta). Saya memilih Jokowi. Tapi, di akhir esei tersebut saya tegaskan bahwa saya bukan pendukung seperti orang lain mendukung. Saya menulis begini:
“Keberpihakan demikian tentu saja keberpihakan yang tidak dilandasai kepentingan apapun. Seperti orang buta huruf yang tidak membayangkan huruf-huruf ketika mendengar sebuah bunyi kecuali sebagai bunyi itu sendiri, saya memilih untuk tidak membayangkan apapun kecuali suara keyakinan tentang kebenaran di dalam diri. Jika kelak keyakinan ini dikhianati oleh pihak yang diyakini sebagai yang baik hari ini, saya akan memilih menjadi pemberontak”.

Sejarah kemudian mencatat, Jokowi menjadi presiden. Saya pun menyediakan “buku catatan” untuknya. Terutama dalam dua tahun terakhir kepemimpinannya, saya banyak memberi komentar kritis kepadanya, baik dalam bentuk tulis maupun di media elektronik. Di sisi lain, teman-teman saya yang menjadi relawan rupanya memang “tidak pulang”. Mereka “menetap sedap di istana”. Oleh sebab itu, sepanjang pemerintahan Jokowi, kita tidak penah mendengar catatan kritis tentang negara ini dari pihak mereka. Dalam tataran karya, kita pun tidak pernah menemukan karya sastra atau seni secara umum yang mengkritik kekuasaan. Negara seolah-olah telah sempurna. Penguasa tidak pernah alfa. Ajaib.

Hari ini saya menemukan Sandi. Bagi saya, Sandi bukan hanya cerdas secara intelegensia, tetapi juga memiliki kecerdasan emosi yang mengagumkan. Sandi bukan hanya mampu menjaga stamina tubuhnya supaya tetap bugar, tetapi juga mampu mengontrol pikiran dan perasaannya sehingga tetap terjaga.

Saya pikir, Sandi memahami benar bahwa dalam kompetisi politik yang membutuhkan keterlibatan publik, “gimik, laku nyentrik, hingga kontroversi” penting dilakukan. Publik harus tetap mengingat dan memperbincangkannya dalam medan wacana. Dan Sandi juga melakukan itu. Tapi, dalam porsi minimal. Tampak ia lebih berpihak pada cara kerja hati. Dan hal itu, tentu, melampaui gimik apapun.

Oleh sebab itu, dalam banyak kesempatan, terutama di televisi, saya acap jelaskan bahwa secara individu, di antara empat orang yang berkompetisi untuk menjadi pemimpin negeri lima tahun kedepan ini, Sandi adalah sosok yang paling matang. Tentu ironis, sebab faktanya Sandi adalah kompetitor termuda.

Baiklah, akan terlalu panjang kalau saya harus menguraikan sosok yang sekarang menjadi idola emak-emak itu. Saya akhiri saja dengan sebuah harapan. Saya berdoa semoga besok (17/04/19), Sandi keluar sebagai pemenang. Seperti pada Jokowi pada 2014, hari ini saya memilih Sandi. Saya yakin, di bawah bimbingan Prabowo Subianto, presidennya, yang sekaligus juga “sahabat milenalnya” tersebut, Sandi akan semakin cemerlang sebagai pemimpin masa depan.

Namun, seperti juga terhadap Jokowi pada 2014, saya bukan pendukung Sandi. Saya akan terus mengambil jarak agar tetap bisa memberikan catatan kritis terhadapnya. Dan kembali, lagi dan lagi, saya akan menjadi pemberontak jika ia melenceng dari apa yang saya yakini hari ini. “Tunggu catatanku, Bro!*

LEAVE A REPLY