Home Hukum Indokrasi

Indokrasi

591
0

Kritik atas praktek demokrasi liberal sudah dilakukan sejak dahulu. Aristoteles lebih condong pada sistem seleksi (bukan pemilihan), karena pemilihan dianggapnya dapat menjadi pintu masuk kekuatan oligarki dalam demokrasi, seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Sebab, dengan modal kekayaannya, oligarki bisa membeli suara pemilih. “Rezim oligarki membuat negara menjelma menjadi satu konglomerasi dari perusahaan-perusahaan tanpa nama yang digerakkan invisible hand”, kata Esteva dan Prakash.

Dalam pidatonya tahun 1957, Soekarno mengkritik pedas demokrasi liberal yang dinilainya sebagai demokrasi dengan politik rongrong-merongrong, rebut-merebut, jegal-menjegal dan fitnah-memfitnah. Ia mengatakan, “Berilah bangsa kita satu demokrasi yang tidak jegal-jegalan. Sebab, demokrasi yang membiarkan seribu macam tujuan bagi golongan atau perorangan akan menenggelamkan kepentingan nasional dalam arus malapetaka”.

Demokrasi liberal, menurutnya, hanya melahirkan lingkungan politik yang tidak stabil dan memicu perpecahan bangsa. Dan itu tidak relevan dengan konteks melikuidasi kolonialisme dan imperialisme.

Setelah Soeharto menjadikan Demokrasi Pancasila hanya sebagai tameng, Era Reformasi membalik jarum jam sejarah. Demokrasi liberal yang telah dibuang Soekarno ke dalam keranjang sampah dipungut lagi. Indonesia saat ini mirip suasana tahun 1950-1959 ketika UUDS berlaku. Demokrasi model ini, menurut PM Inggris, Clement Attlee (1803-1857), seperti pemerintahan dengan perdebatan. Pendiri IM, Hasan al-Banna mengkritik, “Demokrasi bagi kaum liberal sekuler laksana dewa yang terbuat dari kue. Diimani dan disembah jika menguntungkan dan berpihak kepada mereka. Namun jika kurang berpihak, mereka akan memakannya dengan lahap”.

Sampai kapan kita mampu bertahan dari jebakan ‘demokrasi kriminal’ itu ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, dalam “Manipol 88”, saya tawarkan gagasan tentang demokrasi khas Indonesia : Indokrasi.

 – NUGROHO PRASETYO

Previous articleFerdinand: BUKIT HAMBALANG, NASIBMU KINI DI TANGAN REJIM
Next articleHarga Jengkol Naik, Mendag Tak Peduli, DPR pun Sewot
Alamat Redaksi/Iklan/Promosi: PRIBUMI.ID tergabung dalam MEPRINDO MEDIA GROUP (MMG) The Manhattan Square Building Mid Tower, 12th Floor Jl. TB Simatupang Kav 1 – S Jakarta, 12560 – INDONESIA p : +62 21 8064 1069 f : +62 21 8064 1001 redaksi@pribumi.id, redaksipribumi@gmail.com dikelola di bawah naungan PT Meprindo (Media Pribumi Indonesia), dengan Akta Notaris Nomor 14 / 30 Oktober 2015. Notaris Raden Reina Raf’aldini, SH, dengan Pengesahan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Nomor AHU-2463874.AH.01.01.TAHUN 2015. Sebagai media kami membuka ruang jurnalisme yang sebenarnya. CEO/Penanggung Jawab & Pemimpin Redaksi: Aendra Medita K Redaktur Senior: Susi Andrini, A. Hendrawan, Hermana HMT Redaktur Pelaksana: Rachmat Edy Rhenoz Dharma Sidang Redaksi: Hermana Lina Alfajri Suka Ajie Hendrawan Sekretaris Redaksi: Lin Business Marketing Director: Ussie Samsi Teknologi Informasi: Andre Tyo Penasehat Hukum Gan Gan R.A. , SH www.jakartasatu.com Seluruh wartawan Pribumi.ID mengunakan ID CARD dan kami melarang/ menolak keras sogokan dalam bentuk apapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here