Home Hukum Pantun: Tak Mengenal Neokanibalisme

Pantun: Tak Mengenal Neokanibalisme

204
0

Oleh: Taufan S. Chandranegara*)

Berpantunlah dengan indah, semoga langit semakin cerah. Tak guna bermuram durja, sebab hidup berbagi untuk sesama. Membaca susastra pantun, belajar menulis pantun, bermanfaat mengenali sejarah susastra tutur, sebelum susastra tulis. Pantun salah satu sumber-bahasa ibu, untuk modern susastra kini.

Susastra tutur-tulis, hingga pengembangan penciptaan susastra kini, ada pada riset pustaka, sebagai suri tauladan hidup, salah satu kontrol tuntunan moral, intelegensi spiritual. Sebab pantun, bagaikan mantra untuk kabaikan, berlaku santun, tak mudah anarkis atau pun represif.

Keluasan entitas pantun, berguna dari riset sederhana, sebuah upaya dasar membangun kreatifitas edukatif ‘Satu Bahasa-Bahasa Indonesia’, pelajaran paling mendasar, sebelum eksak-menulis dengan tutur kata sains, setelah alfabetis direkam intelegensi.

*

Beribadah, menulis dengan teks kesantunan, salah satu tuntunan iman bagi sesama-semisal, kritik positif, ‘Dilarang Merokok’, segala hal ihwal, mungkin atau barangkali, jika dimulai dari keinginan untuk selalu belajar bersama, meski diri telah mencapai pendidikan tinggi, semoga mencapai makrifatnya, salah satu edukasi iman, sebab hidup, mengolah kreatifitas bermanfaat bagi sesama.

Menyusun pikiran untuk daya berpikir, bagaikan menyusun mainan lego, mencapai tepat guna, berpikir kritis, strategis, akurat, inheren kontrol moral intelegensi supaya tak mudah terperangkap ‘Neokanibalisme’, bermula dari, intimidasi hoaxs, terperosok ujaran negatif. Tak menjangkau edukasi kebangsaan.

Neokanibalisme-bersifat adaptif, superbunglon modernisme, lebih mengerikan dari ‘isme’, apapun, demokrasi pun, ini mungkin loh, akan gemetaran, ketakutan-semisal, contoh lagi nih, pada ranah watak koruptif, pada oknum ras-manusia tertentu, tak pernah habis di makan zaman, di benua manapun. Sila buktikan sendiri, sebab teks ini analisis autodidak dari pinggiran Ciliwung, bukan risalah kelas akademis, atau laboratorium.

Itu sebabnya pula, jangan melupakan pantun, sumber energi ilmu pengetahuan ‘bahasa ibu’, sumber susastra kini-milenial sekalipun. Salam Indonesia Keren. Negeri Para Sahabat.

Jakarta Indonesia, Oktober 1, 2020

*) praktisi seni

Previous articleDEKLARASI KAMI KARAWANG SUKSES
Next articleDPR LICIK DAN PENGECUT
Alamat Redaksi/Iklan/Promosi: PRIBUMI.ID tergabung dalam MEPRINDO MEDIA GROUP (MMG) The Manhattan Square Building Mid Tower, 12th Floor Jl. TB Simatupang Kav 1 – S Jakarta, 12560 – INDONESIA p : +62 21 8064 1069 f : +62 21 8064 1001 redaksi@pribumi.id, redaksipribumi@gmail.com dikelola di bawah naungan PT Meprindo (Media Pribumi Indonesia), dengan Akta Notaris Nomor 14 / 30 Oktober 2015. Notaris Raden Reina Raf’aldini, SH, dengan Pengesahan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Nomor AHU-2463874.AH.01.01.TAHUN 2015. Sebagai media kami membuka ruang jurnalisme yang sebenarnya. CEO/Penanggung Jawab & Pemimpin Redaksi: Aendra Medita K Redaktur Senior: Susi Andrini, A. Hendrawan, Hermana HMT Redaktur Pelaksana: Rachmat Edy Rhenoz Dharma Sidang Redaksi: Hermana Lina Alfajri Suka Ajie Hendrawan Sekretaris Redaksi: Lin Business Marketing Director: Ussie Samsi Teknologi Informasi: Andre Tyo Penasehat Hukum Gan Gan R.A. , SH www.jakartasatu.com Seluruh wartawan Pribumi.ID mengunakan ID CARD dan kami melarang/ menolak keras sogokan dalam bentuk apapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here